INVESTIGASI 86 NEWS || PALEMBANG
Advokat vokal, Iskandar Halim Munthe, SH. MH., resmi menabuh genderang perang melawan sindikat mafia tanah di Sumatera Selatan. Dengan narasi menyengat, Iskandar menggedor pintu Polda Sumsel untuk membongkar skandal busuk pengalihan lahan transmigrasi seluas 5.600 hektar di Desa Mekar Jaya, Kabupaten Lahat, yang diduga kuat menjadi ajang "pesta pora" para penyamun uang negara (15/01/2026).
Iskandar menilai kasus ini bukan sekadar sengketa lahan biasa, melainkan kejahatan korporasi dan birokrasi yang terstruktur. Ia secara terang-terangan mengkritik lemahnya pengawasan Pemerintah Daerah dan menuntut Kapolda Sumsel serta Kapolres Lahat untuk bertindak tanpa kompromi.
Dalam pernyataannya yang pedas di depan gedung Ditreskrimsus Polda Sumsel, Iskandar menegaskan bahwa praktik pemalsuan surat dan penyalahgunaan Dana Desa adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat kecil.
"Saya minta Kapolda, Dirreskrimsus, hingga Kapolres Lahat: Periksa semua! Siapa pun yang berada dalam rantai busuk pemalsuan surat dan perampokan Dana Desa ini harus diseret ke penjara. Jangan ada diplomasi di balik meja, hukum harus tegak lurus!" tegas Iskandar.
Yang paling mengejutkan, Iskandar menyoroti adanya aroma busuk keterlibatan oknum anggota kepolisian yang disinyalir menjadi "tameng" atau pelindung para mafia tanah. Ia mendesak Bid Propam Polda Sumsel untuk melakukan "bersih-bersih" internal secara total.
"Kami mengendus ada oknum polisi yang coba-coba menjadi 'bemper' mafia. Saya tegaskan, jangan sampai institusi Polri dikotori oleh oknum penjilat. Jika terbukti ada anggota yang bermain, copot dan pidanakan! Jangan sampai hukum tumpul hanya karena rasa setiakawan yang sesat," cecarnya dengan nada tinggi.
Iskandar menilai jika laporan di tingkat daerah berjalan di tempat atau terindikasi ada "main mata" antara penguasa dan pengusaha, maka ia tidak akan ragu untuk membawa kasus ini ke level nasional.
"Jika di Sumsel atau di Lahat masih ada yang berani bermain-main dengan laporan ini, saya sendiri yang akan memimpin gerakan ke Jakarta. Kita lihat apakah oknum-oknum itu masih bisa tertawa saat KPK dan Mabes Polri turun tangan membongkar borok ini!" pungkasnya.
Team Redaksi PRIMA

Social Header